11 September tepat di Rabu kelabu. Delapan puluh tiga, putra terbaik menutup usia. meneteskan hujan di setiap ujung mata para pengidola meremas hati tak segan tuk ditinggal Putra terbaik yang dianak-tirikan. menduduki tahta hanya beberapa purnama lalu turun. demi mempersilakan kasta penggerogot rakyat berkedok merakyat lembarannya pun tak diterima oleh gedung hijau. Walau ditolak, Putra terbaik mampu berdiri, di bumi pertiwi bahkan di bawah naungan eropa Wahai putra terbaik, tanahku, amat menjunjung keagungan namun, yang tersampaikan salah asuh. Yang mana, putra terbaik menjadi milik putra eropa. meski tetap nasionalis, merah putih. Putra terbaik, dielu-elukan atas cinta kasih pada tulang rusuknya yang telah mendahuluinya beribu-ribu hari. kini, putra terbaik tak lagi milik pertiwi. kini, putra terbaik menempati kalibata bersama permaisurinya untuk ditangguhkan kembali sampai hari yang dijanjikan.
klasik. seperti nyala lilin yang akan mati