Langsung ke konten utama

Eyang Pertiwi Menutup Usia

11 September tepat di Rabu kelabu.
Delapan puluh tiga, putra terbaik menutup usia.
meneteskan hujan di setiap ujung mata para pengidola
meremas hati tak segan tuk ditinggal
Putra terbaik yang dianak-tirikan. 
menduduki tahta hanya beberapa purnama
lalu turun. demi mempersilakan kasta penggerogot rakyat berkedok merakyat
lembarannya pun tak diterima oleh gedung hijau. 
Walau ditolak, Putra terbaik  mampu berdiri, di bumi pertiwi bahkan di bawah naungan eropa
Wahai putra terbaik, tanahku, amat menjunjung keagungan
namun, yang tersampaikan salah asuh.
Yang mana, putra terbaik menjadi milik putra eropa.
meski tetap nasionalis, merah putih.
Putra terbaik, dielu-elukan atas cinta kasih pada tulang rusuknya
yang telah mendahuluinya beribu-ribu hari.
kini, 
putra terbaik tak lagi milik pertiwi.
kini,
putra terbaik menempati kalibata bersama permaisurinya untuk ditangguhkan kembali 
sampai hari yang dijanjikan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

behind the night

Dingin mengigitr kulit tubuh mengkerut tangan menyentuh ubun rambut dekapan mengerat merengkuh nyaman didekapannya desakan itu menjalar keseluruh tubuh dia pun merasakan apa yg kurasa berbaring berhadapan merobohkan akal pikiran ku dan dia akupun memiliki seutuhnya

Puisi Tergesa? Mungkin

saat hujan datang pikiran ku meliar rintikan hujan bak runtuhan rasa terpendam dibenak tiap tetesan air yang jatuh bak goresan pensil yang terukir  angin berhembus membawa angan diriku harum debu membuat diriku bergairah akan liarnya pikiran  indahnya hujan membuat alam berwarna usai hujan genangan air seperti tumpukan rasa pelangi bersinar seperti anganku terlihat

Mencoba tapi Tak Bisa

sekuat apapun engkau mencoba berlari dariku engkau akan kembali ke dalam pelukanku sehebat apapun  engkau mencoba membenci  yakinlah dirimu tak kan sanggup setangguh apapun engkau mendustakan hati percayalah kau tak setangguh itu