Langsung ke konten utama

Ketidaktahuan Kita

jangan salahkan aku bilamana ada yg berjarak
jangan beri aku senyum kecut yang kau buat
aku sudah ulurkan tangan tapi kau tepis
saat kau jatuh aku meraih tangan mu
tapi kau tak raih
aku ingin kembali seperti perkenalan pertama kita
wajah lugu, anggukan segan dan jabatan penuh keraguan
waktu sudah cukup mengabaikan yang ada
sampai kapan kau akan berjarak?
sampai kapan kau akan berpura-pura tak mengenal?
aku sudah cukup lama menunggu di simpangan jalan pertama kita bertemu
tapi yang kudapat hanya suara hujan dan terpaan angin perih di muka
harus kau tahu aku bukanlah matahari yang setia menemani siang mu
aku bukan pula hujan yang selalu mengiringi guntur
aku hanya seorang gadis kecil yang takut akan kehilangan mu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

behind the night

Dingin mengigitr kulit tubuh mengkerut tangan menyentuh ubun rambut dekapan mengerat merengkuh nyaman didekapannya desakan itu menjalar keseluruh tubuh dia pun merasakan apa yg kurasa berbaring berhadapan merobohkan akal pikiran ku dan dia akupun memiliki seutuhnya

Puisi Tergesa? Mungkin

saat hujan datang pikiran ku meliar rintikan hujan bak runtuhan rasa terpendam dibenak tiap tetesan air yang jatuh bak goresan pensil yang terukir  angin berhembus membawa angan diriku harum debu membuat diriku bergairah akan liarnya pikiran  indahnya hujan membuat alam berwarna usai hujan genangan air seperti tumpukan rasa pelangi bersinar seperti anganku terlihat

Mencoba tapi Tak Bisa

sekuat apapun engkau mencoba berlari dariku engkau akan kembali ke dalam pelukanku sehebat apapun  engkau mencoba membenci  yakinlah dirimu tak kan sanggup setangguh apapun engkau mendustakan hati percayalah kau tak setangguh itu