Berawal dari percakapan ringan senja,
Musfiah Saidah merekomendasikan film Korea berjudul Crash on Landing you. Rekomendasi
tersebut kutelan mentah-mentah, yang menjadikan aku menonton film tersebut
hingga usai. Film tersebut rupanya membawa tema yang bagiku sensitif, yakni
Korea Utara dengan Korea Selatan.
Film Crash Landing on you menceritakan dengan apik ketegangan antara kedua negara
tersebut. Pun menggambarkan kehidupan seakan-akan nyata Korea Utara. Kehidupan
tersebut menyiratkan akan sulitnya teknologi mencapai negara itu karena dalam
cerita tidak ada satupun warga di salah satu desa memegang gawai, kecuali
orang-orang yang berpangkat tinggi. Ibu rumah tangga di sana juga harus bekerja
untuk memenuhi urusan “perut”. Dan hampir di setiap dinding berbicara untuk
selalu taat pada pimpinan negara. Gambaran mengenai kehidupan desa di Korea Utara
berlanjut pada panggilan Kamerad. Kamerad merupakan anggota separtai.
Namun, kata tersebut mengalami perluasan makna yaitu teman atau kawan.
Film tersebut juga mengangkat kehidupan militer yang sangat kental akan ketaatan dan kepatuhan serta kesetiaan. Namun bukan kesetiaan yang mengandung makna positif, melainkan makna negatif karena pada film ini, kesetiaan pada pimpinan untuk menyingkirkan orang baik demi menutupi pekerjaan kotor. Pekerjaan kotor di sini seperti mencuri artefak, mendengarkan pembicaraan melalui alat penyadap, berbagi komisi atas penjualan artefak. Film ini juga menampilkan satu fakta ialah keberadaan alat penyadap seperti lauk-pauk kehidupan Korea Utara.
Film Crash Landing on You juga menampilkan dengan nyata adanya jam malam dan pemeriksaan dadakan pada latar Korea Utara. Pemeriksaan dadakan dengan memilih secara acak rumah yang akan diperiksa bertujuan untuk mencari barang-barang "haram". Maksudnya, barang yang bukan made in Korea Utara akan disita, begitupula untuk mengawasi ketaatan dalam norma-norma kehidupan masyarakatnya.
Di sisi lain, film tersebut mengingatkan
politik dalam negeri. Bahwa semua yang berkuasa akan menang. Segala sesuatu
yang mempunyai relasi orang dalam akan mudah urusannya. Paradigma seperti itu
sudah ada jauh lebih lama berkuasa daripada merdekanya negeri-negeri di dunia. Namun,
lagi-lagi pijakan realitas itu terhenti pada perfilm-an, yang mana drama
tersebut memberitahukan secara jelas dan terang bahwa tokoh, kejadian,
organisasi, dan latar belakang adalah fiksi. Walaupun pemberitahuan awal
terhadap film tersebut begitu terang, tetap saja sebuah karya merupakan mimesis. Meminjam istilah plato, sastra adalah hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan (mimesis). Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan. Oleh karena itu, nilai sastra semakin rendah dan jauh dari dunia ide. Jadi kepercayaan bahwa semua latar yang diceritakan merupakan fiksi atau nyata kembali lagi pada penikmat film tersebut.
Komentar
Posting Komentar